C. STRATEGI DOTS

Strategi penanggulangan yang direkomendasikan oleh WHO adalah Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy). Strategi DOTS telah dibuktikan dengan berbagai uji coba lapangan dapat memberikan angka kesembuhan yang tinggi. Bank Dunia menyatakan Strategi DOTS merupakan strategi kesehatan yang paling cost effective. Satu studi cost benefit yang dilakukan oleh WHO di Indonesia menggambarkan bahwa setiap satu dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB, akan menghemat sebesar 55 dolar selama 20 tahun.

Strategi DOTS terdiri dari lima komponen, yaitu:

  1. Komitmen politis dari para pengambil keputusan, termasuk dukungan dana;
  2. Diagnosis TB dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung;
  3. Pengobatan dengan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO);
  4. Kesinambungan persediaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) jangka pendek untuk pasien;
  5. Pencatatan dan pelaporan yang baku untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi program TB.

Untuk menjamin keberhasilan penanggulangan TB, kelima komponen tersebut di atas harus dilaksanakan secara bersamaan.

Pada tahun 1994 Indonesia menguji-cobakan implementasi Strategi DOTS dengan demonstration area di Provinsi Jambi (Kabupaten Bungo Tebo) dan Jawa Timur (Kabupaten Sidoarjo). Hasil uji coba lapangan ini memberi angka kesembuhan yang tinggi lebih dari 85%. Angka kesembuhan yang tinggi ini penting untuk memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya kekebalan obat ganda atau Multi Drug Resistance (MDR) yang merupakan ancaman besar bagi masyarakat.

Sejak tahun 1995, program penanggulangan TB nasional mengadopsi Strategi DOTS dan menerapkannya pada Puskesmas secara bertahap. Sampai tahun 2000 hampir seluruh Puskesmas telah berkomitmen dan mengadopsi Strategi DOTS yang diintegrasikan dalam pelayanan primernya.

Pada kenyataannya, pasien TB bukan hanya datang ke Puskesmas, melainkan juga ke BP4/BKPM/BBKPM, Rumah Sakit, klinik, DPS dan dokter perusahaan. Dari hasil Survei Prevalensi Tuberkulosis pada tahun 2004:

  • untuk kawasan Sumatera: pasien TB datang ke RS dan BP4/BKPM/BBKPM: 44%, Puskesmas 43% dan DPS 12%,
  • untuk kawasan Indonesia Timur: pasien TB datang ke RS dan BP4/BKPM/BBKPM 31%, Puskesmas 53% dan DPS 16%,
  • untuk kawasan Jawa-Bali: pasien TB datang ke RS dan BP4/BKPM/BBKPM: 49%, Puskesmas 21% dan DPS 29%.

Karena itu perlu ekspansi Strategi DOTS ke UPK terutama RS dan BP4/BKPM/BBKPM di regional Sumatera dan Jawa-Bali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s